Selasa, 19 Juni 2012
Tukang Kayu
Seorang tukang kayu tua bermaksud untuk pensiun dari pekerjaannya disebuah perusahaan konstruksi Real Estate. Ia mengutarakan keinginannya tersebut kepada pimpinan perusahaan. Tentu saja, kerena tak bekerja lagi, maka ia kana kehilangan penghasilan bulanannya, akan tetapi keputusannya sudah bulat. Ia memang merasa bersalah.
Tapi Ia sudah ingin beristiraha untuk menikmati hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama isteri dan keluarganya.
Mendengar keinginan itu pemimpin perusahan merasa sedih karena akan kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi Pimpinan perusahaan tersebut. Tapi, sebenarnya Ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah ogahan dia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan bahan seadanya dan dari bahan kelas termurah. Dan akhirnya selesailah rumah yang diminta pimpinan perusahaan tersebut.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh disayangkan Dia harus mengakhiri kariernya dengan sebuah prestasi yang tidak mengagumkan bahkan sangat mengecewakan.
Ketika pimpinan perusahaan itu data dan melihat rumah pesanannya, maka Ia menyerahkan sebuah kunci rumah tersebut kepada si Tukang Kayu tersebut. " Ini adalah rumahmu," katanya, Ini adalah hadiah dari kami sebagai ucapan terimakasih kami atas baktimu selama ini kepada perusahaan.
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya dia. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya sedang mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, maka ia akan mengerjaka dengan cara yang lain sama sekali yaitu dengan cara yang terbaik tentunya. Kini ia harus tinggal disebuah rumah yang tidak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kadang kala, banyak dari kita yang membangun kehidupan kita dengan cara yang membingingkan. Lebih memilih berusaha alakadarnya dari pada mengupayakan hal yang terbaik. Bahkan dalam hal hal terpenting dalam hidup kita, kita tidaklah memberikan yang terbaik.
Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita dalam rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadari sejak semula, maka kita kan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu tersebut, renungkan pula rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik mungkin seolah olah kita hanya mengerjakannya dengan kesempatan sekali saja seumur hidup.
Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari utupun kita pantas untuk hidup dalam kemenangan dan kejayaan.
Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya Pastikan Kitapun Masuk dalam barisan Pemenang.
Salam Tangguh...!
