Selasa, 19 Oktober 2010

Popok Sekali Pakai


Popok Sekali Pakai atau Popok Kain?
Apakah Anda tahu, kalau setiap bayi berganti popok dalam kisaran 5000 hingga 8000 kali? Dan kebanyakan, popok yang dipakai adalah jenis sekali pakai.
Apa yang Anda pakaikan pada buah hati Anda? Jenis yang sekali pakai atau popok kain yang bisa dicuci? Bila Anda memilih yang jenis sekali pakai, artikel ini mungkin akan mampu mengubah pilihan Anda.
Kebanyakan popok sekali pakai melewati proses pemutihan. Proses ini jelas menambah kadar gas dioksida yang beracun. Pun, tercatat 250.000 pohon ditebang setiap tahun untuk memproduksi popok bayi. Data itu adalah untuk bayi di Amerika, bukan untuk untuk seluruh dunia.
Setelah dipakai, popok itu akan berakhir di daratan, bersamaan dengan sampah-sampah lain. Popok itu pun merusak tanah, meracuni air tanah, dan menjadi medium penyebaran parasit, virus, dan bakteri.
Pun, selain dari faktor lingkungan, popok sekali pakai dapat berakibat buruk bagi kesehatan bayi Anda.
Popok biasanya mengandung super absorbent polymer (SAP). SAP merupakan jenis polimer yang mampu menyerap air hingga 8 kali beratnya, berubah menjadi jel ketika basah sehingga mampu membuat bayi tetap kering dan tidak mengalami ruam-ruam.
Efek buruknya adalah bila popok robek saat dipakai, walau sekecil apa pun robekan itu. SAP bisa tertinggal di kulit bayi dan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pencernaan, bila SAP itu tanpa sengaja tertinggal di mulut bayi.
Selain itu, penggunaan popok akan mempersulit latihan buang air yang seharusnya dijalani oleh setiap bayi. Penelitian menemukan, bayi yang menggunakan popok kain memulai latihan menggunakan toilet hingga setahun lebih cepat daripada bayi yang menggunakan popok sekali pakai.
Nah, kini Anda punya dua alasan kuat untuk memakaikan popok kain pada anak Anda, bukan popok sekali pakai yang akan merusak lingkungan dan berpotensi mengganggu kesehatan buah hati Anda.
[sumber: thegreenguide.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar