Inspiring Words

"Sebagian Orang Hanya Bermimpi Sukses Sementara Yang Lainnya Bangun dan Bekerja Keras Untuk Sukses"

Kamis, 02 September 2010

K A K A P

K A K A P

Ya…Kakap adalah nama sejenis ikan laut yang sangat lejat dan cocok sekali sebagai salah satu makanan kesukaan saya (kepala kakap ala rumah makan Padang).
Kakap sering kali diidentikkan dengan sesuatu yang berkelas. Sering kita mendengar istilah kelas kakap untuk sesuatu yang besar seperti; Pengusaha kelas kakap, perusahaan kelas kakap dan juga engga ketinggalan Bandit/Penjahat kelas kakap.

Sementara yang berlawanan dengan kelas kakap maka akan dekategorikan sebagai kelas Teri. Padahal di pasar harga kedua jenis ikan tersebut sama-sama kelas kakap (teri Medan), alias sama-sama mahal.

Mengapa segala sesuatu yang besar selalu dikatakan kelas Kakap? Padahal ikan kakap bukanlah ikan yang terbesar dilaut. Masih banyak jenis ikan yang bahkan jauh lebih besar dari ukuran ikan Kakap. Hiu, Paus misalnya.

Ya…bukan mau berceritera tentang masakan ikan Kakap kita disini.

Saya ingin mengajak rekan-rekan untuk memancing, tetapi bukanlah ikan kakap yang mau kita pancing, saya ingin mengajak memancing ikan Hiu atau ikan Paus ,rekan-rekan.
Memancing Hiu atau Paus..??. jangan diselokan ataupun kolam..tidak ada. Memancing hiu atau paus ..ya.ke laut..! !.

Maksud saya begini, sering kali kita menginginkan yang besar atau waaah.
Kita menginginkan rumah yang besar, mobil mewah, berlibur keluar negeri dan menyekolahkan anak di sekolah yang terbaik.
Saya katakana itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk anda raih.

“IMPOSIBLE IS NOTHING”

Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa kok banyak orang yang tidak dapat meraih atau mendapatkan keinginan yang besar itu ? ya kita anggap saja keinginan yang besar itu sebagai ikan Hiu atau ikan Paus.

Hal itu dikarenakan seperti seorang yang mau memancing hiu/paus, tetapi dia tidak pernah kelaut memancing, dia hanya pergi keselokan, kesungaipun tidak.
Kalau begini, ya tidak muangkinlah dapat hiu/paus.

Bila kita menginginkan dapat hiu/paus maka memancinglah ke laut. Engga cukup di laut saja, tetapi ke tengah laut, ke laut lepas.
Tentu anda engga bisa begitu saja pergi ketengah lautan lepas, bisa mati tenggelam anda. Apalagi anda engga bisa berenag, sudah pasti itu. Atau jangan-jangan anda yang didapatkan sang hiu/paus dan anda yang menjadi korbannya. Ha ha ha ha……


Untuk mendapatkan sang hiu/paus tersebut maka kita harus melakukan persiapan, peralatan penunjang, kapal/perahu, pancing/jala/jaring atau tombak seperti yang dilakukan beberapa suku di Indonesia Timur misalnya. Dan jangan lupa orang-orang yang mendukung kita.

Kita harus melakukan dan memiliki sarana tersebut diatas kalau kita mau berhasil dan sukses dalam memperoleh apa yang ingin kita pancing (hiu/paus).
Kalau anda pada saat ini adalah pegawai atau karyawan swasta ataupun pegawai negeri golongan menengah maka anda adalah termasuk orang-orang yang memancing di selokan atau sungai saja. Seberapa keraspun usaha anda untuk memancing, engga akan pernah anda mendapatkan hiu/paus, karena memang engga ada disana. Seberapa besarpun usaha anda memancing disana hanya ukuran kilogram yang bisa anda bawa pulang, Lantas..?
ya ke lautlah memancingnya.

Dibutuhkan keberanian memang, keberanian untuk berpindah dari selokan/sungai ke laut. Dibutuhkan keberanian untuk berpindah profesi dari pegawai/employee ke Pengusaha/Entrepreneur.

Tapi…..? Jangan takut dulu saudaraku…
Saya tidak bermaksud menjebak anda kok, ya diperlukan suatu persiapan yang matang agar kita tidak terjebak dan kecewa nantinya.
Banyak jalan atau cara berpindah dari employee menjadi seorang Etrepreneur.

Kenapa harus jadi Entrepreneur ?. ya… karena Entrepreneur itu ibaratnya lautan luas. Dimana disana anda bisa berenang tanpa ada yang membatasi anda, satu-satunya yang bisa membatasi anda adalah diri anda sendiri. Itulah mengapa saya katakana tadi harus ada orang-orang yang bisa menolong kita dan sekaligus menolong diri mereka sendiri yang juga tanpa batas. Dengan demikian anda bisa mendapatkan/memperoleh sebanyak apa yang anda maui. Kalau anda tetap bertahan sebagai employee maka anda seperti berenag disebuah kolam renang. Tembok-tembok sekeliling kolam telah membatasi anda. Sekalipun anda mempunyai kemampuan dan tenaga yang lebih, anda sudah dibatasi sedalam dan seluas bidang kolam renang tersebut saja, tidak bisa lebih.
Ya income/gaji/upah anda telah dibatasi sebesar apa yang anda terima sekarang. Memang akan anda kenaikan, tapi berapa % pertahun? Lebih tinggi mana bila kita bandingkan dengan kenaikan inflasi?.

Dan berapa besarkah keinginan anda?, berapa yang bisa anda tabung ? setelah dipotong dengan kebutuhan anda dan keluarga?. Lantas berapa lama anda harus menabung untuk sebuah keingnan anda yang terbesar misalnya, sebuah rumah?.
Stelah tiba jangka waktunya anda menabung (5) tahun misalnya, masih samakah nilai tabungan Rupiah anda dengan nilai keinginan anda?





Maka yang anda temukan adalah; nilai uang anda menyusut, sementara nilai keinginan anda telah naik berbanding terbalik < >. Infasi penyebabnya.

Orang yang apa dia inginkan dan ia mendapatkannya adalah seorang pengusaha atau Entrepreneur. Selalau ada waktu dan peluang untuk dia mengusahakan. Makanya disebut pengusaha.

Ada tiga cara kita untuk berpindah menjadi Pengusaha/Entrepreneur:

1. Cara yang berat (dengan modal yang sangat besar)
2. Cara yang sedang (dengan modal Rp 100 juta keataslah)
3. Cara yang sangat ringan (bisa dikatakan tidak membutuhkan modal meski tidak bisa dikatakan nol modal sama sekali) tapi bisa dan sangat bisa memperoleh hasil yang tidak kalah dengan kedua jenis yang diatas dan telah terbukti banyak yang melampauinya.

Contoh yang:

1. Berat adalah; Membangun system sendiri, misalnya; Honda, Toyota (banyak perusahan Jepang yang melakukan system ini , yaitu mereka membangun paberik mereka di seluruh dunia.
2. Sedang adalah; Bisnis waralaba seperty; super market, rumah makan, bengkel, mini market dan lain-lain,
3. Ringan adalah: Pemasaran Jaringan atau Network Marketing atau di Indonesia lebih dekenal denga istilah MLM.

Mari kita perhatikan hasil surpey ini dan surpey membuktikan:

- 5% orang terkaya didunia mencari dan membangaun jaringan
- 20% orang kaya karena factor keturunan dan konglomerasi
- 75% adalah orang-orang yang bekerja/employee atau orang-orang yang mencari pekerjaan untuk mendapatkan upah atau bayaran.
Siapakah yang membayar upah mereka?. Tentunya adalah sang pengusaha.

Nah yang 5% orang yang terkaya didunia itu adalah orang-orang yang berhasil dengan membangun jaringan bisnisnya.
Network Marketing atau pemasaran jaringan adalah kapal atau perahu yang dapat anda gunakan untuk berlayar kesamudera luas agar anda bisa memancing bahkan menjala hiu-hiu ataupun paus-paus yang anda inginkan

Jadi kalau kita ingin memperoleh ikan hiu/paus jangan kekali/sungai/kolam memancingnya. Memancinglah kesamudera lepas. Disana anda tidak hanya bisa memancing, tapi anda bisa menjaring/menjala sebanyak apa yang anda mau, anda sendiri yang menentukan.


Sebarkan jaring/jala anda seluas mungkin dan bukan hanya hiu yang anda dapat kan.
Banyak jenis ikan lain juga akan terjaring. Sekalipun anda mungkin tidak mendapatkan hiu atau paus, tetapi ikan yang anda peroleh tidak lagi KILOGRAM ukurannya, tapi TON. Jadi …ya nilainya hiu/paus juga kan..??

Dengan mengunakan system MLM, anda engga usah langsung kelaut atau pindah profesi. Anda bisa menjadikan bisnis MLM itu menjadi bisnis sampingan terlebih dahulu.
Tapi anda harus memiliki komitmen/tekat yang kuat untuk belajar dan menjalankanya minimal satu tahu (Learning by doing).
Cari perusahan MLM yang baik dan benar. Temukan Mentor atau guru yang hebat disana.

Setelah satu tahun anda kan bisa menilai perahu anda. Apabila nilainya sudah sama atau hampir sama dengan nilai yang anda peroleh saat ini (gaji/upah) anda, maka anda sudah punya pilihan tentunya.

Saran saya ..anda sudah boleh secara pelan-pelan meninggalkan dunia anda yang lama, lantas langsung tancap gas di dunia anda yang baru ini.

MAU YANG KELAS KAKAP..??
Tinggalkan yang kelas TERI…! !

Selamat berburu paus/hiu anda…

Salam Tangguh

Team Tangguh 3n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar